27 November 2012

Hujan Lagi Sepi Lagi, Susahnya jadi pedagang

WARUNG SIOMAY MILIK IW


Kehidupan menjadi pedagang, terutama pedagang makanan, ada dalam cerita IW. Sejak menjual Siomay di pinggir jalan, keadaan ekonomi IW belum juga berangsur baik.

Penghasilan yang nggak pasti setiap hari, bukannya IW nggak kerja keras tetapi banyak faktor yang mempengaruhi. Menjual Siomay di desa Lengkong, kawasan yang belum mengenal tradisi kuliner, cukup signifikan mempengaruhi penghasilan IW.

Belum lagi kalau musim pengantin. Saat-saat itu jualan IW juga drop karena banyak orang yang harus saweran "bowo: bahasa Jawa) untuk memberi amplop ke pengantin. Bowo itu kisarannya Rp 50.000,-.

Selain itu ketika kemarau datang, jualan IW juga drop. Musim kemarau membuat petani pada paceklik sehingga perputaran uang menjadi terganggu juga.

Belum lagi ketika anak-anak pada masuk sekolah. Banyak pengeluaran yang harus ditanggung orang tua supaya anaknya bisa tetap sekolah. Dengan pengeluaran besar pada saat itu, perputaran uang terpusat ke sekolah. Jualan IW juga terganggu.

Ketika musim hujan, sama juga. Pendapatan IW terpengaruh. Hari ini hujan datang. Sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB, IW hanya menunggu pembeli datang. Selama 2 jam menunggu, belum ada satupun yang membeli jualan IW.

Memasuki pukul 14.00 WIB, hujan deras mengguyur warung IW. Praktis IW nggak dapat apa-apa hari itu hingga sore hari. Mau makan apa kalau kondisinya seperti itu? Kasihan IW...

Sebenarnya tidak hanya IW yang mengalami keadaan itu. Hampir seluruh pedagang terutama makanan terpengaruh oleh keadaan diatas. Mereka bukannya malas tetapi perputaran uang tidak stabil. Orang lebih mementingkan kebutuhan lain daripada wisata kuliner.

Ini dia video yang berhasil direkam IW saat hujan datang:

video

Referensikan Blog Ini dengan nama domain : www.kisahhidupiw.blogspot.com